Generasi.co, Jakarta – Pemerintah menginvestigasi sebuah makalah ilmiah yang mengusulkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026. Dokumen setebal 69 halaman itu menjadi sorotan setelah mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu penulis dan beredar luas di media sosial.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari memastikan pemerintah tengah menelusuri dokumen tersebut.
“Lagi diinvestigasi,” kata Qodari di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Di saat bersamaan, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) juga melakukan klarifikasi terhadap sejumlah dokumen dan nama yang tercantum dalam makalah tersebut.
Berikut fakta-fakta yang diketahui sejauh ini:
1. Pemerintah menyatakan paper masih diinvestigasi
Bakom RI memastikan belum memberikan kesimpulan mengenai makalah tersebut. Pemerintah masih menelusuri proses penyusunan, dokumen pendukung, hingga pihak-pihak yang terlibat.
2. Paper mengusulkan MBG sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026
Makalah tersebut berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth.
Dokumen itu membahas Program Makan Bergizi Gratis sebagai model kebijakan publik yang dikaitkan dengan ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, hingga perdamaian.
3. Nama Presiden Prabowo tercantum sebagai penulis
Dalam publikasi tersebut, Prabowo Subianto tercantum sebagai salah satu penulis bersama sejumlah akademisi dari Indonesia dan Malaysia.
Paper menyebut total terdapat sepuluh penulis.
4. Dokumen dipublikasikan di SSRN
Makalah memiliki ketebalan 69 halaman.
Naskah tercatat disusun pada 13 Februari 2026 dan dipublikasikan melalui platform Social Science Research Network (SSRN) pada 31 Maret 2026.
5. Kemendagri mengklarifikasi surat yang dilampirkan
Kemendagri menelusuri lampiran surat bernomor ND/KIE/001/I/2026 yang tercantum dalam makalah.
“Terkait dengan Kemendagri, dari pagi kami sudah dapat informasi itu, sekarang lagi diklarifikasi, apakah itu memang Kemendagri secara kelembagaan atau bagaimana. Kemudian apakah surat yang disampaikan itu benar dari Kemendagri atau apa, kita pastikan dulu,” kata Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Benni Irwan.
6. IPDN membantah mengeluarkan surat
Kemendagri juga menghubungi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) karena nama institusi tersebut ikut tercantum dalam lampiran makalah.
Menurut Benni, hasil klarifikasi menunjukkan surat tersebut bukan berasal dari IPDN.
“Saya sudah klarifikasi ke IPDN, itu bukan dari IPDN. Kita sudah telepon Pak Rektor, itu bukan dari IPDN,” ujarnya.
7. Nama staf Ditjen Polpum ikut ditelusuri
Kemendagri juga melakukan pendalaman internal terkait nama seorang staf Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) yang tercantum dalam dokumen.
Benni mengatakan memang terdapat staf bernama Ashar di Ditjen Polpum, namun hingga kini klarifikasi internal masih berlangsung.
8. Paper menyebut MBG sebagai smart business model
Dalam abstraknya, penelitian menyebut MBG bukan sekadar program bantuan pangan.
Program tersebut disebut sebagai smart business model yang menggabungkan peningkatan gizi masyarakat dengan penguatan aktivitas ekonomi nasional.
9. Penelitian menggunakan pendekatan ADR
Penulis menyebut penelitian dilakukan menggunakan pendekatan Action Design Research (ADR).
Metode yang digunakan meliputi wawancara, diskusi kelompok terarah (focus group discussion), serta analisis berbagai dokumen kebijakan.
10. Paper mengklaim MBG berdampak pada ekonomi
Dokumen menyebut pelaksanaan MBG berpotensi meningkatkan keterlibatan UMKM, petani, pelaku usaha pangan, hingga rantai distribusi.
Menurut paper tersebut, kondisi itu dapat membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan produsen lokal, serta memperkuat industri pangan nasional.
11. MBG dikaitkan dengan konsep positive peace
Dalam pembahasannya, penulis menghubungkan MBG dengan konsep positive peace atau perdamaian positif.
Konsep itu dijelaskan sebagai kondisi ketika perdamaian tidak hanya dimaknai sebagai tidak adanya konflik, tetapi juga terciptanya keadilan sosial melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pengurangan kemiskinan, dan pemerataan kesempatan ekonomi.
12. Viral setelah diunggah di media sosial
Keberadaan paper menjadi perhatian publik setelah diunggah sejumlah akun media sosial, salah satunya akun X @TxtdariiUGM.
Unggahan tersebut menyebut paper itu merupakan usulan Program Makan Bergizi Gratis sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026 dan kemudian memicu berbagai tanggapan warganet.










